FIQIH TENTANG CINTA
Fiqih tentang cinta
Cinta, sejak dulu dan masa yang akan datang akan selalu menggema dalam relung hati makhluk yang bernyawa. Getar cinta telah menimbulkan gelombang gerak yang sangat dahsyat dalam diri pencintnya. Kata cinta terdengar begitu indah, melankolis, sentimental, puitis sekaligus dramatis atau terkadang bombastis yang semuanya menjadi adonan runyam serta renyah, sehingga kehadirannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, atau seandainya bisa, tentu akan kehabisan kata-kata.
| Fiqih tentang cinta |
Cinta memang selamanya tidak berakhir dengan kebahagiaan. Ia kadang juga mampu membawa penderitaan bagi pelakunya. Terkadang pula karena cinta manusia merintih dan menangisi hidup sepanjang masa. Oleh karena itu dirasa perlu membahas tentang cinta agar cinta itu dapat membawa kebahagiaan bagi yang menjalaninya, dengan rumusan masalah sebagai berikut:
- Bagaimana pengertian Fikih dan Cinta?
- Apakah yang dimaksud dengan pacaran?
- Bagaimana proses-proses menuju pernikahan?
- Pengertian Fikih dan Pembahasan Tentang Cinta
- Pengertian Fikih dan Cinta
Fikih , secara terminologi, adalah hukum-hukum syarak yang bersifat praktis (amaliah) yang diperoleh dari dalil-dalil yang terperinci. Dalam istilah lain dikatakan: “Fikih, menurut istilah ialah mengetahui hukum-hukum syarak mengenai perbuatan yang diambil melalui dalil-dalilnya yang terperinci”.
Sedangkan pengertian cinta adalah sikap, suatu orientasi watak yang menentukan hubungn pribadi dengan dunia keseluruhan, bukan menuju suatu objek cinta. Jika seorang pribadi hanya mencintai satu pribadi lainnya dan cuek, apriori, dan acuh tak acuh, maka cintanya bukanlah cinta, tetapi ikatan simbolik yang dilapisi egoisme.
- Sejarah cinta
Dalam sejarahnya, cinta sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno. Bangsa Yunani sendiri mengakui beberapa bentuk cinta, termasuk cinta heteroseksual dan homoseksual, kasih sayang orang tua, anak dan suami istri, rasa persaudaraan, persahabatan, dan cinta akan kebijaksanaan. Semuanya diasosiasikan, baik dengan eros maupun philia (rasa sayang atau persahabatan).
Para filosofpun tidak ketinggalan memperbincangkan tema cinta. Tidak kurang, pada zaman Yunani, filosof sekaliber Aristoteles, Plato, dan Plotinus juga ikut menyumbangkan pemikirannya tentang cinta. Begitu pula pada abad pertengahan, ada tokoh sekaliber Agustinus datang gagasan cinta yang tidak dilandasi oleh egoisme.
- Tingkatan Cinta
- Cinta Narsisitik (Narsisme)
Adalah cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan sehingga saat harus mencintai orang lain (lawan jenis) diukur seberapa jauh keuntungannya bagi dirinya sendiri.
- Cinta Transaksional
Adalah jenis cinta seperti pedagang. Jika “barang” itu membawa untung, maka diambil. Jika tidak, maka segera disingkirkan, bahkan dibuang.
- Cinta binal
Adalah tingkat cinta yang hanya mengedepankan kenikmatan, hedonistik, dari segala-galanya.
- Cinta Patologis
Adalah cinta yang kelewat batas. Yaitu mencintai dengan cara yang berlebihan, cenderung gila-gilaan, bahkan boleh jadi menghambakan diri kepada orang yang dicintainya.
- Cinta Murni
Adalah cinta yang tanpa pamrih. Orang yang mempunyai cinta murni akan mencintai kekasihnya tanpa berharap apapun.
- Cinta Agung
Adalah tingkatan cinta yang tidak berharap apapun dari manusia kecuali ridha Allah SWT.
- Tokoh-Tokoh Besar Berbicara tentang Cinta
- Almarhum Plato, moyang filsuf Barat.
- C.G. Jung (1875-1961 M), seorang psikiater Swiss.
- Erich Fromm (1900-1980), pakar psikoanalisis dan filsuf Amerika kelahiran Jerman.
- Rabindranath Tagore (1861-1941 M), penyair sekaligus filsuf asal Bengali.
- Leo Tolsoy (1828-1910 M), novelis kenamaan Rusia, yang juga filsuf, moralis, dan mistikus.
- Hua-Ching Ni, seorang guru meditasi ajaran Tao dan tabib alami dari Cina.
- Ayatullah al-Uzhma Ruhullah Mustafawi Khomeini.
- Abu Bakr Muhammad bin Ali bin Ahmad ath-Tha’i al-Hatimi, Muhyiddin bin Abdillah al-Andalusi, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Arabi.
- Pacaran
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan “pacar” adalah “kekasih” atau “teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih”. Berpacaran adalah bercintaan, berkasih-kasihan. Memacari adalah mengencani, menjadikan dia sebagai pacar. Jika diperhatiin sekilas, bisa jadi orang mengganggap pacaran itu tidak ada ruginya padahal banyak sekali ruginya, diantaranya:
- Rugi waktu
Biasanya mereka mencoba saling mengerti jika kekasihnya juga punya kepentingan lain. Tapi jika masing-masing minta dimengerti, bisa-bisa muncul sikap egois. Merasa dirinya paling penting dan paling berhak untuk diperhatikan. akhirnya mereka terpaksa mengorbankan waktu untuk sekolah, kantor, keluarga, atau teman sebaya agar kekasihnya tidak marah, dan jika sudah begini, demi mempertahankan pacaran, urusan lain bisa berantakan.
- Rugi pikiran
Sehebat-hebatnya manusia mengelola alokasi pikiran dan perhatian untuk mengurusi hidupnya, belum tentu dia mampu mengendalikan rasa cintanya. Semua pikiran kita selalu mengerucut pada satu objek: Pacar.
- Terbiasa nggak jujur
Sering kali muda-mudi yang melakukan pacaran berbohong pada kekasihnya agar terlihat perfect, atau berbohong kepada ibu atau keluarganya untuk dapat bertemu dengan kekasihnya.
- Rugi materi
Dalam berpacaran, keberadaan materi sangat menentukan mati hidupnya itu hubungan. Meski mengaku tidak begitu mementingkan materi, tetap saja bila nraktir bakso harus menggunakan uang.
- Proses-Proses Menuju Pernikahan
DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://zahrapia.blogspot.com/. Terima kasih.
Postingan Lebih Baru
Postingan Lebih Baru
Postingan Lama
Postingan Lama
Igniel
Komentar